Nono Sampno, Penjual Ikan dan Roti Itu Kini Jenderal Marinir

1 Dec

nonoPerpisahan ayah dan ibu di usia saya masih 3 tahun, membuat saya harus hidup dengan ayah angkat. Untungnya, meski hanya seorang sopir angkot, nilai-nilai kehidupan yang diajarkannya membuat saya tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan mandiri. Ketika SMP, saya mencari tambahan ongkos dengan sekolah dengan menjual ikan dan roti. Jika ada waktu luang, saya jadi kernet angkot.

Perpisahan membuat Ibu – keturunan Maluku Sulawesi – harus hidup berpindahan-pindah, meninggalkan tempat lahir saya di Bangkalan, Madura. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Blitar, hingga Semarang. Sampai akhirnya, nasib baik membawa kami kembali ke kampung halaman Ibu di Ambon.

Ayah sempat menyusul ke Ambon dan rujuk dengan Ibu. Tapi karena tak betah tinggal di sana, mereka akhirnya berpisah. Sejak itu, saya dan dua adik perempuan diangkat anak oleh paman Ibu, Idris Sampono, yang berprofesi sebagai sopir angkot. Kebetulan Idris dan istrinya tidak punya anak. Kami tinggal di sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari gaba-gaba pelepah sagu dan atap rumbia, dengan lantai sebagian besar tanah.

Melihat kerja keras paman yang banting tulang menyekolahkan kami, saya tergerak untuk membantu. Selepas SMP, saya bekerja membantu H. Hasan, masih saudara, mengangkut ikan dari perahu dengan keranjang. Pagi-pagi setelah salat Subuh saya berangkat. Dinginnya udara pagfi yak menyurutkan langkah saya. Upah yang saya dapat saya pergunakan untuk membeli kayu bakar dan sayuran untuk dimasak di rumah. Saya juga menjual roti di pasar.

Di hari libur, saya membantu ayah dengan menjadi kernet mobil omprengan. Tak jarang saya ditangkap polisi karena mobil yang digunakan mobil dinas milik orang. Angin kencang dan panas terik tak saya hiraukan. Saya justru bangga menjalani semuanya. Ini bentuk tanggung jawab seorang anak laki-laki terhadap keluarganya. Kebanggaan makin menjadi-jadi, saat saya melihat senyum penuh kebanggaan di bibir mereka.

Meski kondisi ekonomi kami pas-pasan, Ayah memaksakan diri menyekolahkan saya di sekolah bagus. Lantaran bayarannya mahal, saya pun kerap menunggak uang sekolah. Saya malu dan sempat minta Ayah memindahkan saya ke sekolah “biasa” saja. Tapi beliau bersikeras dengan bilang, hanya pendidikan baik yang nantinya akan membuat saya jadi orang besar.

Untungnya, saya termasuk murid yang disenangi para guru. Saya juga jago di pelajaran matematika dan ilmu alam. Banyak teman dan tetangga yang minta dibuatkan pekerjaan rumah. Hal itu membuat saya disegani, di sekolah maupun di lingkungan rumah. Apalagi teman-teman tak membedakan saya dalam pergaulan, meskipun status ekonomi dan agama kami berbeda.

Ayah banyak mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada saya. Suatu ketika, saya diajak ke rumah seorang temannya. Rumah yang bagus, terbuat dari batu. Saya begitu mengagumi dan membayangkan alangkah nikmatnya jika saya bisa tinggal di rumah seperti itu. Ketika kekaguman itu saya sampaikan kepada Ayah, saya ingat sekali jawabanya saat itu: “Kalau kamu ingin memiliki rumah seperti itu, rajinlah belajar. Jadilah orang baik dan orang pintar yang  dibutuhkan orang lain.  Niscaya kelak kamu akan bisa memiliki rumah seperti itu.” Kata-kata ayah itu sangat membekas di hati, memacu saya untuk selalu menjadi orang pintar dan baik.

Lulus SMA, saya kuliah di Fakultas Teknik Universitas Pattimura. Namun baru setahun di sana, hati saya bergejolak. Saya risau jika memilikirkan kelak harus bersaing mendapatkan pekerjaan. Akhirnya, saya mohon restu pada Ibu dan orangtua angkat saya untuk menjadi tentara. Awalnya Ibu tampak khawatir. Namun melihat kesungguhan saya, beliau akhirnya mengizinkan saya mengikuti proses seleksi.

Alhamdulillah, saya diterima masuk Akademi Angkatan Laut. Selama menjadi taruna, saya tak pernah ditengok atau dikirimi uang saku. Saya memaklumi, biaya perjalanan Ambon – Surabaya cukup besar, tak memungkinkan mereka menjenguk saya. Begitu pun dalam hal uang saku, hidup mereka saja sudah pas-pasan. Tak ayal, saya mesti betul-betul berhemat memanfaatkan uang saku yang diberikan sekolah.

Selama menjadi taruna, saya sempat pulang ketika duduk di tingkat I dan IV. Saat itu saya melihat kebanggan yang besar dirasakan oleh Ibu dan orangtua angkat saya. Berkat doa mereka jua, pendidikan saya berjalan lancar. Masuk tahun 1972, saya lulus pada 1976. Setelah lulus, dengan uang tabungan bertahun-tahun, akhirnya saya bisa mempersembahkan rumah batu untuk orangtua angkat saya. Saat rumah selesai dibuat dan siap huni, ayah angkat saya tampak begitu bahagia. Matanya berkaca-kaca.

Seiring kehidupan saya yang kian mapan, Ibu dan orangtua angkat saya boyong ke Jakarta. Namun ayah angkat saya menolak, masih ingin menikmati rumah batu pemberian saya, kata dia. Tahun 1986, 40 hari setelah ibu angkat saya meninggal, ayah angkat saya menyusul menghadap Yang Kuasa. Sebagai penghormatan, saya gunakan nama beliau – Sampono – di belakang nama saya, hingga sekarang. Ibu saya sendiri meninggal pada tahun 2001.

Setelah itu, karier saya terus menanjak. Selain menjadi jenderal berbintang tiga, saya pun dipercaya memegang sejumlah jabatan strategis, seperti Komandan Paspampres, Gubernur AAL, Komandan Jenderal Akademi TNI, dan Kepala Badan SAR Nasional.

Hidup makin sempurna dengan kehadiran istri saya, Norma Riana, dan tiga anak, Agustini Moerdiana, Taufik Moerdianto, dan Sheila Destaria Moerdianti. Saya pun sudah memiliki mantu Bariu Bawana, seorang perwira polisi, dan cucu bernama Denaya. Kepada mereka, saya selalu tekankan kepedulian pada sesama dan semangat untuk menjadi yang terbaik di bidang masing-masing.

Sebagai rasa syukur,  saya membangun sebuah pesantren untuk anak-anak korban tsunami di Aceh  dan sebuah yayasan pendidikan di Jonggol, Bogor, untuk anak-anak prajurit dan warga sekitarnya. Kini, setelah selama 35 tahun menjadi warga Jakarta, saya ingin mendedikasikan diri untuk membangun kota kita tercinta, agar lebih maju, aman, tertib, dan damai. (disarikan dari artikel “Kisah Sejati Nono Sampono”, Kartini No 2309, Desember 2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: